Sabtu, 20 Januari 2018
Sabtu, 03 Juni 2017
Senin, 03 Oktober 2016
Ahmad Saleh
Sugiyono
Sedikit sekali orang yang mengetahui tentng hubungan
antara tarekat dengan ajaran Islam pada umumnya. Malah banyak sekali orang yang
menyangka bahwa tarekat itu bukan ajaran dari Islam, maka tidaklah heran banyak
kalangan atau aliran/organisasi Islam yang menentang keberadaan tarekat bahkan
menganggapnya bahwa ajaran tarekat itu sesuatu yang diciptakan oleh orang di
luar Islam.
Studi dan penelitian tentang tarekat belum banyak
dilakukan oleh kalangan ilmuwan dan peneliti. Padahal tarekat mempunyai
relevansi dan kaitan erat dengan kesadaran dan gerakan keagamaan di kalangan
rakyat. Tarekat Qodiriyah, misalnya merupakan aliran tarekat yang berpengaruh
dan banyak pengikutnya di Indonesia. Aliran tarekat ini mempunyai peranan yang
sangat besar dalam perjuangan kemerdekaan seperti perlawanan para petani di
Banten, dan perjuangan melawan pemerintahan kolonial di zaman revolusi fisik.
Memang terasa ‘asing’ dan langka karena bagi orang
yang belum mengetahui tarekat secara benar akan mengatakan bahwa ajaran tarekat
penuh dengan bid’ah dan dibuat-buat, akan tetapi andai saja kita mau menelusuri
ajaran Islam secara kaffah/menyeluruh maka tidak akan muncul paradigma yang
negatif terhadap tarekat. Akibat muncul paradigma yang negatif terhadap tarekat
maka tak menutup kemungkinan suatu aktifitas yang sebenarnya identik dengan
pengamalan ajaran tarekat disikapi dengan penuh curiga dan bila perlu diberi
stempel sesat dan menyesatkan. Mengapa bisa terjadi demikian? Jawabannya adalah
sebagai berikut:
Senin, 26 September 2016
Bismillahirrohmanirrohim
Dengan Nama
Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, Sabda Rosululloh Muhammad SAW
(Shollallohu'alaihi Wasallam):
"Adalah Jibril apabila datang kepadaku, yang pertama diberikannya kepadaku ialah Bismillahirrohmanirrohim" (Darulquthni dan Ibnu Umar r.a.).
"Adalah Jibril apabila datang kepadaku, yang pertama diberikannya kepadaku ialah Bismillahirrohmanirrohim" (Darulquthni dan Ibnu Umar r.a.).
Dari Anas
bin Malik bersabda Nabi Muhammad SAW:
"Itulah isim dari asma Alloh Tidak lain antara ia dengan nama Alloh 'Akbar' seperti putih mata dengan hitamnya. Begitulah dekatnya".
"Ismullohil-A'zhom ialah Alloh Apakah engkau tidak lihat bahawasanya pada semua pembacaan Al-Quran dimulai dengan Bismillahirrohmanirrohim sebelum menyebut nama-nama Alloh yang lain". (Riwayat Imam Bukhari dari Jabir).
"Itulah isim dari asma Alloh Tidak lain antara ia dengan nama Alloh 'Akbar' seperti putih mata dengan hitamnya. Begitulah dekatnya".
"Ismullohil-A'zhom ialah Alloh Apakah engkau tidak lihat bahawasanya pada semua pembacaan Al-Quran dimulai dengan Bismillahirrohmanirrohim sebelum menyebut nama-nama Alloh yang lain". (Riwayat Imam Bukhari dari Jabir).
Demikianlah
jawaban Rosululloh Muhammad SAW ketika ditanya oleh Utsman Ibnu Affan ra
berkenaanBismillah. Sabda Baginda s.a.w. lagi, dari Abu Na'im dan Ibn Sunni
dari Siti Aisyah ra:
"Ketika turun Bismillahirrohmanirrohim mengucap tasbihlah gunung-gunung hingga dapat mendengar para penduduk Mekah dan sekitarnya. Lalu mereka berkata: 'Rupanya Muhammad yang menyihir gunung-gunung itu'. Kemudian Alloh bangkitkan awan hingga meneduhkan penduduk Mekah".
"Ketika turun Bismillahirrohmanirrohim mengucap tasbihlah gunung-gunung hingga dapat mendengar para penduduk Mekah dan sekitarnya. Lalu mereka berkata: 'Rupanya Muhammad yang menyihir gunung-gunung itu'. Kemudian Alloh bangkitkan awan hingga meneduhkan penduduk Mekah".
Selasa, 14 Juni 2016
MACAM-MACAM TAUBAT
Para sufi memiliki konsepsi tentang jalan menuju Allah. Jalan ini merupakan
latihan-latihan rohaniah (riyadhah) yang dilakukan secara bertahap dalam
menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan maqamat (tingkatan-tingkatan) dan ahwal (keadaan-keadaan)
kemudian berakhir dengan mengenal (ma'rifat) kepada Allah.
Kebanyakan sufi menjadikan taubat sebagai perhentian awal di jalan menuju
Allah. Pada tingkat terendah, taubat menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau
anggota-anggota badan. Pada tingkat menengah, di samping menyangkut dosa yang
dilakukan jasad, taubat menyangkut pula pangkal dosa-dosa, seperti dengki, sombong,
dan riya. Pada tingkat yang lebih tinggi, taubat menyangkut usaha menjauhkan
bujukan setan dan menyadarkan jiwa akan rasa bersalah. Pada tingkat terakhir,
taubat berarti penyesalan atas kelengahan pikiran dalam mengingat Allah. Taubat
pada tingkat ini adalah penolakan terhadap segala sesuatu yang dapat
memalingkan dari jalan Allah.
Taubat agaknya diakui secara umum dalam pembahasan tasawuf sebagai maqampertama yang harus dilalui dan dijalani oleh seorang salik. Dikatakan, Allah tidak mendekati sebelum bertaubat. Karena dengan taubat,
jiwa seorang salik bersih dari dosa. Tuhan dapat didekati dengan jiwa yang
suci.
Selasa, 29 Desember 2015
MENGENAL
HAKEKAT KENABIAN
Pokok dari ajaran agama adalah mengajarkan
kepada ummatnya tentang bagaimana berhubungan dengan Tuhan, cara mengenal-Nya
dengan sebenar-benar kenal yang di istilahkan dengan makrifat, kemudian baru
menyembah-Nya dengan benar pula. Apakah agama Islam, Kristen, Hindu dan
lain-lain, semuanya mengajarkan ajaran pokok ini yaitu bagaimana seseorang bisa
sampai kehadirat-Nya. Karena itu pula Allah SWT menurunkan para nabi/Rasul
untuk menyampaikan metodologi cara berhubungan dengan-Nya, tidak cukup satu
Nabi, Allah SWT menurunkan ribuan Nabi untuk meluruskan kembali jalan yang
kadangkala terjadi penyimpangan seiring berjalannya waktu.
Nabi Adam AS setelah terusir dari syurga bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun bertobat kepada Allah SWT tidak diampuni, setelah Beliau berwasilah (teknik bermunajat) kepada Nur Muhammad barulah dosa-dosa Beliau diampuni oleh Allah SWT, artinya Allah mengampuni Adam as bukan karena ibadahnya akan tetapi karena ada faktor tak terhingga yang bisa menyambungkan ibadah beliau kepada pemilik bumi dan langit. Lewat faktor tak terhingga itulah maka seluruh permohonan Nabi Adam as sampai kehadirat Allah SWT. Faktor tak terhingga itu adalah Nur Muhammad yang merupakan pancaran dari Nur Allah yang berasal dari sisi-Nya, tidak ada satu unsurpun bisa sampai kepada matahari karena semua akan terbakar musnah kecuali unsur dia sendiri yaitu cahayanya, begitupulah dengan Allah SWT, tidak mungkin bisa sampai kehadirat-Nya kalau bukan melalui cahaya-Nya
Nabi Adam AS setelah terusir dari syurga bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun bertobat kepada Allah SWT tidak diampuni, setelah Beliau berwasilah (teknik bermunajat) kepada Nur Muhammad barulah dosa-dosa Beliau diampuni oleh Allah SWT, artinya Allah mengampuni Adam as bukan karena ibadahnya akan tetapi karena ada faktor tak terhingga yang bisa menyambungkan ibadah beliau kepada pemilik bumi dan langit. Lewat faktor tak terhingga itulah maka seluruh permohonan Nabi Adam as sampai kehadirat Allah SWT. Faktor tak terhingga itu adalah Nur Muhammad yang merupakan pancaran dari Nur Allah yang berasal dari sisi-Nya, tidak ada satu unsurpun bisa sampai kepada matahari karena semua akan terbakar musnah kecuali unsur dia sendiri yaitu cahayanya, begitupulah dengan Allah SWT, tidak mungkin bisa sampai kehadirat-Nya kalau bukan melalui cahaya-Nya
Langganan:
Postingan (Atom)


