Tampilkan postingan dengan label Sambil Senyum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sambil Senyum. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Mei 2014

Apa Beda Pemilu Sekarang dengan Zaman Orba?

Dengan santai sambil beristirahat setelah menyiangi rumput di sawahnya, Pak Jufri dan anak laki-lakinya Yanto berbincang soal penghitungan cepat atau quick count yang makin ramai di zaman reformasi ini. Kebetulan Yanto sedang liburan kuliah semester lima, jadi bisa membantu Ayahnya di sawah.
To, kira-kira pemilu kali ini siapa ya pemenangnya?” tanya Pak Jufri kepada anaknya.
“Zaman reformasi seperti sekarang sih gampang Pak, tinggal lihat saja quick count,” jawab Yanto dengan pede-nya.
Oh...gitu toh,” kata Pak Jufri dengan mengangguk-angguk.
“Lah iya Pak, tinggal nunggu saja kira-kira lima jam setelah pencoblosan selesai, kita bisa lihat penghitungan cepat di teve siapa yang menang,” tutur Yanto semangat.
“Wuelah dalah...kalau gitu lebih cepetan zaman Bapak dong waktu orba,” ungkap Pak Jufri.
“Ah...masa sih Pak? Waktu itu kan belum ada Lembaga penghitungan cepat,” sanggah Yanto.
“Loh...Jangan salah To, dulu kita tidak perlu menunggu sampai lima jam untuk tahu siapa yang menang. Sebelum orang-orang pada nyoblos pun, kita sudah tahu siapa yang bakal menang,” jawab Pak Jufri diplomatis. (Fathoni)

Sumber: http://www.nu.or.id

Rabu, 05 Februari 2014

Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi
SEEKOR SEMUT dengan rencana tersusun di pikirannya, sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap pada kuntum bunga itu dan menghisap madunya. Capung itu sebentar-sebentar terbang pergi dan kembali lagi.
Kali ini Si Semut berkata, “Kau ini hidup tanpa usaha, juga tanpa rencana. Karena kau tidak punya tujuan nyata maupun cita-cita, apakah ciri utama dari hidupmu dan ke manakah akhirnya?’
Jawab Si Capung, “Aku bahagia, dan aku bersenang-senang, itu cukup nyata dan bertujuan. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh berencana sesukamu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada cara hidup yang lebih baik. Bagimu rencanamu, bagiku rencanaku.”
Si Semut berpikir, “Yang tampak olehku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa yang terjadi pada semut. Aku tahu apa yang terjadi pada capung. Baginya rencananya, bagiku rencanaku.”
Si Semut pun berlalu, sebab ia telah memperingatkan sebisanya dalam situasi itu.
Hingga suatu ketika mereka bertemu lagi.
Si Semut menemukan kios tukang daging, dan dengan cerdik ia berdiri saja di bawah meja tempat daging, menunggu apa yang mungkin datang padanya.

Kamis, 19 Desember 2013

Humor Sufi*: "Tuhan itu Tak Ada!," Kata Tukang Cukur
Kiwir mau pangkas rambut. Ia datang ke tukang cukur langganannya di dekat rumahnya, di Depok. Ternyata tutup.”Lagi pulang kampung, Mas,” kata penjaga toko di sebelah kios tukang cukur itu.
Berhubung rambutnya sudah panjang, Kiwir gak betah. Ia mencari ''barber shop'' lain di seputaran Jalan Margonda, dekat kampus UI. Brewoknya juga sudah awut-awutan. "Gak keren, kayak Lonardo DiCaprio," katanya dalam hati.
Tidak lama, Kiwir sudah di kursi tukang cukur. Sambil memotong rambut Kiwir, tukang cukur mengajaknya bicara. Mulailah mereka terlibat pembicaraan yang kian lama kian menghangat. Keduanya memperbincangkan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan. Hingga entah kemudian topiknya ''nyasar'' ke pembicaraan tentang masalah akhirat.
Tukang cukur: ”Saya tidak percaya Tuhan itu ada.”
Kiwir: “Kenapa?”

Sabtu, 26 Oktober 2013

WEJANGAN SUNAN KALIJAGA



Wejangan Kanjeng Sunan Kalijogo marang Kyai Ageng Bayat Semarang (Sekar Macapat – kanthi Tembang Dandang Gulo).

Urip iku neng ndonya tan lami.
Umpamane jebeng menyang pasar.
Tan langgeng neng pasar bae.
Tan wurung nuli mantuk.
Mring wismane sangkane uni.
Ing mengko aja samar.
Sangkan paranipun.
Ing mengko podo weruha.
Yen asale sangkan paran duk ing nguni.
Aja nganti kesasar.

Selasa, 12 Februari 2013

Makam Mbah Jangkung Bisa Untuk Kembalikan Santet
Ada makam sangat terkenal di puncak Gunung Putri, Baleendah, Garut, Jawa Barat. Panjangnya sekitar 3,5 meter. Menurut sesepuh setempat, Eyang Omo Suntana (58), makam itu lebih dikenal dengan Makam Mbah Jangkung. Menurut orangtuanya, Mbah Jangkung adalah orang sakti pelindung warga Baleendah dari penindasan Kompeni. Karena itulah makamnya banyak diziarahi.
DARI cerita turun-temurun, Mbah Jangkung tewas ditembak Kompeni karena pusaka andalannya hilang dicuri sahabatnya. Pada hari ke-40 sejak dikubur, tiba-tiba nisan makam Mbah Jangkung memanjang sendiri.
"Kata orangtua, banyak yang kaget saat melihat makam Mbah Jangkung tiba-tiba berubah panjang. Nisan yang pada awalnya hanya sekitar 1 meter itu mulur hingga menjadi 3,5 meter," papar Omo Suntana pada Merapi beberapa waktu lalu. Karena nilai ghaibnya itu, tiap malam Jumat dan Selasa Kliwon didatangi banyak orang dengan berbagai niat.

Rabu, 02 Januari 2013

Waktu Insya Allah Berubah

Seorang sarjana luar negeri bolak-balik ngomel, dengan gusar, "NU ini belum berubah, dari saya PMII sampai anak saya mau PMII molor terus. Bagaimana mau maju?"

"Rapat di undangan jam dua WIB, tapi jam tiga baru seorang yang datang," keluh sarjana tadi.

"Biasa aja, Gus. Santai aja. NU sudah maju kok mesti rapatnya terlat terus," timpal Hakim, seorang sekretaris yang bikin undangan dan selalu datang di awal, dengan tenang.

"Kok bisa ya Sampeyan sabar menunggu rapat begini? Bertahun-tahun terlat, tapi masih sabar dan santai," tanya sarjana tadi dengan heran.

Sabtu, 08 Desember 2012

si Ribu vs si Ratus Ribu

DIALOG antara uang Rp1.000 dan Rp100.000.

Uang Rp1.000 dan Rp100.000 sama2 terbuat dari kertas, sama2 dicetak dan diedarkan oleh dan dari Bank Indonesia.
Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar di masyarakat.Empat bulan kemudian, mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda. Kemudian di antara kedua uang tersebut terjadilah percakapan,Rp100.000 bertanya kepada yang Rp1.000, "kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan bau amis?" dijawablah olehnya, " karena aku begitu keluar dari Bank langsung di tangan orang2 bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan di tangan pengemis. " Lalu Rp1.000 bertanya balik pada Rp100.000, "kenapa kamu terlihat begitu baru, rapi dan masih bersih? " jawabnya, "karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restauran mahal, di mall dan juga hotel2 berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet."
 Bahkan bentar lagi aku telah dipersiapkan untuk kebutuhan menyambut TAON BARU 2013 M.

Minggu, 22 Juli 2012

Malaikat pun Dibikin Bingung Beda Awal Puasa
Awal Ramadhan selalu membikin bingung masyarakat, mau ikut siapa. Pemerintah punya pendapat, ada pula ormas Islam yang keukeuh dengan tafsirnya sendiri. Masing-masing adu argumentasi dan perang opini, tak peduli masyarakat yang menjadi korban ketidaksepakatan para elit ini.

Syahdan, ternyata yang kebingungan bukan hanya masyarakat di pelosok desa dan kota se-Indonesia, para malaikat pun mengalami hal yang sama.

“Ini setan-setan harus dipenjara kapan ya? Ikut penetapan pemerintah apa ormas Islam yang puasa lebih awal”

Karena tidak bisa mengambil keputusan, akhirnya dilakukan rapat besar para malaikat untuk menentukan kapan setan-setan harus masuk bui. Kesepakatannya, setan yang biasa menggoda pengikut ormas yang puasa lebih awal, masuk kerangkeng lebih dulu, sedangkan lainnya esok harinya. Ini hasil yang dirasa ideal dan adil.

Senin, 02 Juli 2012

Kyai Hasyim Menjawab
 “Ada sebuah pertanyaan yang susah dijawab. Tapi juga kelihatan gampang, yakni mengapa orang adzan selalu menutup telinganya?Demikian almarhum M Said Budairy, mengajak saya tebak-tebakan.
“Mungkin sunnah Rasul, Pak,” kata saya mulai menebak.

“Ada jawaban lain tidak?” tanya Said Budairy.

“Emmm.. mungkin karena nyaman Pak, atau juga karena kebiasaan,” saya tidak mau menyerah.

Rabu, 18 April 2012

Anak Ayam dan Imam Sholat

Di sebuah desa kecil terdapat surau ditepi sawah. Di sana di kenal tokoh agama sekaligus ahli tasawuf tinggkat tinggi. Perasaannya sangat tajam, persis seperti janggut lancipnya yang mulai memutih mengkilap. namanya Mbah Abu. Suatu ketika ia kedatangan tamu dari kota dan tibalah waktu maghrib. mereka pun sholat berjamaah, dan tentu saja Mbah Abu yang menjadi imamnya.
 Singkat cerita, ketika usai sujud dan hendak duduk tahiyat ahir, Mbah Abu sebagai imam sholat tiba-tiba kaget dan langsung berdiri gelagapan. Pasalnya, ada suara anak ayam berteriak kencang seperti kesakitan "ciet ciet ciet!". kedengarannya persis di bawah tempat duduk Mbah Abu... Setelah ditengok ke belakang, walhasil tidak ada apa-apa. tetapi suara anak ayam masih terus berteriak. (ciet ciet ciet!).